Mereka bukan seorang bisu, pun seorang buta. Kemiskinanlah yang membungkam matahatinya. Mati. Tak bersuara karena tak mampu membaca hati yang lirih. Tak melihat karena tak mampu membeli alat tulis juga gambar. Apa guna mata dan suara jika tak mampu merekam kenangan? Guru harus datang dari seberang untuk mengajari orang sekampung. Syahdan, mereka bukan seorang bisu, pun seorang buta. Setelah berkalang gelap. Guru membawa kami pada alam terang benderang. Berkesenian membuka suara juga mata yang semula bungkam.
Guru akar rumput, begitu julukan lelaki tua itu. Ujung bibirnya selalu memamah rumput, namun fasih menggelorakan asa.
Guru menggambar dengan apa saja. Akar, ranting, rumput kering, juga pecahan genting. Membahasakan derita hari-hari kami pada media gambar. Kini semaraklah desa kami oleh celoteh anak-anak yang menggambar, orang tua yang gigih menulis pada kertas lusuh, ibu-ibu yang menganyam pandan di balai.
Tak lagi bungkam pada sulur—sulur berkesenian..
Semarang, 2009
*Seni yang berguna

0 komentar:
Posting Komentar